Merayakan Sekolah sebagai Rumah Kedua

Penulis : Endro Gunawan
(Wakasek SMK Muhammadiyah 1 Klaten Utara)

Lacaknews.com – Klaten – ( OPINI ) Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS 2026 kembali menjadi perhatian orang tua, siswa baru, dan sekolah di seluruh Indonesia, termasuk Klaten. Setelah Permendikbud No. 18 Tahun 2016 dan SE Kemendikbudristek yang menegaskan larangan perploncoan, MPLS kini diposisikan sebagai kegiatan edukatif, humanis, dan berorientasi pada adaptasi. Namun di lapangan, tantangan implementasinya masih panjang. Karena itu, MPLS 2026 harus menjadi titik balik: dari sekadar seremoni awal tahun ajaran, menjadi gerbang transisi yang benar-benar menyiapkan siswa baru secara mental, sosial, dan akademik.

Esensi utama MPLS tahun ini adalah memanusiakan siswa. Ketika materi yang diwajibkan berfokus pada pembentukan karakter, etika bermedia sosial, hingga penguatan budaya “5S” (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), sekolah sedang meletakkan fondasi mental yang sehat. Kebijakan tegas yang melarang keterlibatan alumni serta menghapus segala bentuk pungutan dan kekerasan visual/fisik menunjukkan bahwa pemerintah berkomitmen memotong rantai perundungan (bullying) sejak hari pertama.

Namun, opini saya, tantangan terbesar kini berada di pundak para pendidik dan panitia internal sekolah. Aturan di atas kertas tidak akan berdampak tanpa adanya ketulusan dalam eksekusi. Guru harus mampu menciptakan atmosfer yang menyenangkan, terutama pada fase transisi krusial seperti dari PAUD ke SD atau SMP ke SMA. Jangan sampai lingkaran kegiatan lima hari ini hanya menjadi formalitas administratif tanpa makna.

1. Tujuan MPLS 2026: Dari “Kenal Sekolah” ke “Kenal Diri dan Siap Belajar” Tujuan utama MPLS tidak boleh menyempit hanya pada pengenalan gedung, tata tertib, dan ekstrakurikuler. Siswa SMP yang naik dari SD, atau SMA yang naik dari SMP, menghadapi 3 transisi besar sekaligus: lingkungan baru, tuntutan akademik yang naik level, dan dinamika pertemanan yang lebih kompleks. MPLS 2026 harus menjawab ini dengan kurikulum pengenalan yang terstruktur. Materi wajibnya perlu lebih relevan: literasi digital dan etika bermedia sosial, pencegahan bullying, kesehatan mental remaja, pengenalan layanan konseling sekolah, hingga pemahaman antikorupsi dan toleransi. UNY dan Kemendikdasmen sudah mendorong penguatan karakter, maka MPLS adalah momen paling tepat menanamkannya sejak hari pertama. Siswa baru perlu tahu: ke mana lapor jika dibully, bagaimana mengelola stres ujian, dan apa saja hak-kewajiban mereka sebagai peserta didik.

2. Hilangkan Praktik yang Membebani dan Merendahkan. Masih ada laporan orang tua di Klaten dan daerah lain soal MPLS yang membebani: atribut aneh-aneh, biaya seragam tambahan, tugas mencari barang tidak masuk akal, hingga teriakan-teriakan yang merendahkan. Ini harus nol toleransi di 2026. Kemendikbud sudah jelas: atribut hanya yang wajar, tidak memberatkan orang tua, dan tidak berbau perploncoan.. Pengawasan dari Dinas Pendidikan dan komite sekolah jadi kunci.

3. Libatkan Siswa Lama sebagai Kakak Pendamping, Bukan “Senior” Peran OSIS dan siswa kelas atas harus digeser dari “panitia yang menakutkan” menjadi “kakak pendamping”. Skemanya bisa seperti orientasi kampus: satu kakak mendampingi 5-10 siswa baru, fokus memperkenalkan, menjawab pertanyaan, dan membuat siswa baru merasa aman. Beri pelatihan dulu untuk kakak pendamping tentang komunikasi non-kekerasan, deteksi tanda stres, dan batasan tugas mereka. Ketika siswa lama diperlakukan sebagai mentor, bukan penguasa, budaya sekolah jadi lebih sehat.

4. Porsi Orang Tua dan Kolaborasi dengan Eksternal MPLS 2026 juga harus membuka ruang bagi orang tua. Minimal ada 1 sesi tatap muka atau webinar: penjelasan program sekolah setahun ke depan, alur pengaduan, dan peran orang tua dalam mendukung adaptasi anak. Selain itu, libatkan Puskesmas, Polsek, atau komunitas lokal untuk sesi kesehatan reproduksi remaja, bahaya narkoba, dan keselamatan di jalan. Ini membuat MPLS tidak monoton ceramah dari guru saja.

5. Evaluasi dan Dampak Jangka Panjang Terakhir, MPLS harus dievaluasi. Setelah 2 minggu masuk sekolah, sekolah bisa survei singkat ke siswa baru: apakah mereka sudah hafal denah sekolah, tahu ke siapa mengadu, punya teman, dan tidak merasa tertekan. Data ini jadi bahan perbaikan MPLS tahun depan. Jika dilakukan dengan benar, MPLS 2026 bukan hanya 3-5 hari formalitas. Ia akan menentukan apakah siswa baru merasa “diterima” atau “dihakimi” di sekolah barunya. Dan perasaan pertama itu akan menular ke motivasi belajar selama 3 tahun ke depan. Singkatnya, MPLS 2026 harus berani meninggalkan sisa-sisa budaya senioritas, fokus pada transisi psikologis siswa, bebas dari beban biaya, dan diukur dari seberapa nyaman siswa baru setelahnya. Sekolah yang mampu melakukan ini, berarti sudah menyiapkan fondasi karakter sebelum pelajaran pertama dimulai.

Jika dilaksanakan dengan konsisten, MPLS 2026 dapat menjadi standar baru dunia pendidikan kita. Kita ingin anak-anak melangkah ke sekolah dengan binar matanya.

Penulis : Endro Gunawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jurnalis

BY LCK

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur

Link Cepat